pemanah handal

Tak banyak cerita kutorehkan tentang dia.
Seorang pria yang bertandang dengan panahnya, pada awal septemberku kala itu.
Kuingat persis bagaimana panahnya menyentil sedikit demi sedikit pintu yang terlihat kokoh,
Namun berayap itu.
Aku dibungkam, hatiku diperdaya.
Banyak hal yang berebut ingin diperhatikan.
Namun, aku sedikit acuh, aku tak peduli.
Kala itu hati pada lainnya.
Berdirinya ada, hanya saja aku masih semu.
Aku terlalu naif, aku adalah kontradiksi saat itu.
Takut terseok-seok sendiri, untuk kesekian kali.
Percayaku pernah sangat tak berarti.
Hadirku pernah sangat membias.
Rasa pilu pernah menguasai seluruh hembusan nafasku.
Ku akui pria itu gigih.
Pria itu sama denganku.
Ia pemilik luka yang sama.
Sama-sama ada namun hanya sekedar ada.
Aku tau, aku mungkin tak selihai dia dalam membungkus luka menjadi tawa.
Banyak hal yang aku suka darinya.
Aku mulai menyatukan lukaku dengannya.
Aku mulai menceritakan kisahku padanya.
Dia dan panahnya seolah menjadi pengisi dalam sisi sunyi yang aku miliki.
Saat itu aku mulai mengerti, aku mulai jatuh hati.
Mungkin bukan untuk pertama kali.
Dia..
Sebuah puisi yang ingin kuubah menjadi prosa.
Sebuah prosa yang ingin kuubah menjadi cerita.
Cerita yang ingin kujadikan teman, teman berlabuh atas nama rindu :)



Komentar